Menemukan Arti Pendewasaan di Jakarta

Udara Jakarta saat itu sedang panas-panasnya. Aku menarik nafas dalam-dalam. Mencoba merasakan oksigen yang masuk kedalam tubuh dengan hati-hati dan mengeluarkannya dengan tenang. Orang bilang begitulah cara menenangkan diri yang efektif. Meski hanya sebentar, kurasa cara itu cukup ampuh. Tapi perasaanku seperti dibawa ombak yang larut membawa kesedihanku terlalu jauh, hingga sulit untuk diselamatkan.

Aku ingat hari terakhir bekerja sebagai freelance di salah satu perusahaan start-up terbesar di Indonesia. Semua terasa begitu cepat dan nyaris sempurna. Teman kerja satu tim yang sudah sepaket dengan sahabat sebagai tempat bercerita keluh kesah, suasana kantor yang nyaman, pekerjaan yang menyenangkan. Namun detik demi detik waktu terus berjalan. Tanpa terasa tulisan dalam sebuah kertas mengatur kapan semua akan berakhir.

Kadang aku merasa seperti seorang pengecut. Gagal menjadi dewasa. Gagal dalam menentukan pilihan dan arah hidup. Seperti hidup memang sudah lelah untuk terus berpihak padaku. Seperti semesta sedang memberiku sebuah ujian. Ujian yang aku sendiri tidak paham bagaimana cara menjawabnya.

Kadang aku melihat diriku ke cermin dan bilang “What the hell is wrong with you?

Masih dalam suasana berkabung, sambil nunggu detik-detik terakhirku bekerja, salah seorang karyawan yang saat itu duduk dihadapanku menanyakan sebuah pertanyaan sederhana, “Terus rencananya abis ini ngapain?”

Dengan ragu-ragu dan keinginan untuk berterus terang, aku menjawab “Gak ada sih mas, menikmati masa menganggur aja”.

Menikmati? Menganggur? Siapa yang bisa menikmati sebuah pengangguran?

Seketika dia melanjutkan pembicaraan dengan bilang “Jalan-jalan aja, mumpung ada waktu” sebuah pilihan menarik kalau saja aku terlahir sebagai anak seorang millionairs. “Gak ada uangnya mas, tabunganku udah abis buat summer school di Eropa dua tahun lalu” begitulah kira-kira aku menjawab. Seperti dapat membaca suasana, responnya diluar dugaanku. Dia bilang, “Beruntung ya kamu. Masih muda tapi bisa ngerasain banyak hal. Summer school di Eropa, baru lulus bisa freelance disini. Gak semua bisa kayak kamu, loh”.

Merasa seperti di tampar, pernyataannya begitu membangunkanku. Selama ini aku selalu melihat kesuksesan berdasarkan tolak ukur orang lain yang membuat aku sadar kalo aku gak akan pernah cukup. Kurang putih lah, kurang tinggi lah, IPK kurang bagus lah, terlalu telat untuk memulai kerja lah. Naif banget kalo aku terus membandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Aku bukan produk dari apa yang orang-orang ingin lihat diluar sana.

Jika ditelusuri kembali, sebenarnya tak ada yang harus disesali. I’ve actually accomplished so much more than I’ve imagined before. And most importantly, having the best people surround me as my support system.

Aku adalah aku. Seseorang yang bebas. Cuma aku yang bisa mendefinisikan siapa aku.

Mungkin pendewasaan bukan tentang lulus kuliah dan punya pekerjaan tetap. Tapi pendewasaan adalah gagal dan jatuh. Mungkin pendewasaan adalah mencoba memahami cara untuk bangkit. Mungkin pendewasaan adalah mencoba mencintai dan memaafkan diri sendiri. Tapi yang paling penting, melakukan hal yang aku sukai dan melakukannya dengan semaksimal mungkin. Terdengar mudah untuk dikatakan, tapi jika terus ditanamkan, pasti akan lebih mudah.

Dengan segala lubang  ketidaksempurnaanku, aku mencoba mendedikasikan diri untuk bisa berdamai dengan diriku sendiri. Mencoba menutupi lubang-lubang itu agar terlihat sempurna, bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri. Keputusan untuk pindah ke Jakarta memang tepat. Jakarta sudah mengajariku untuk jatuh dan gagal. Untuk menamparku dan mengingatkan kembali untuk terus bertarung, berjuang, dan yang terpenting adalah menyadari bahwa hal yang harus fokus untuk aku lakukan adalah mencintai diri sendiri sepenuhnya.

Kalo kata Papa, “Jakarta itu bukan buat orang-orang dari lulusan Universitas ternama dan pernah menang lomba-lomba, Jakarta itu untuk orang yang berani bertarung”.

Don't leave yet, try reading this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *